Seorang guru Zen yang telah tua kesehatannya sedang sangat menurun. Menyadari kalau kematiannya sudah dekat, ia mengumumkan pada semua biarawan kalau dia akan mewariskan jubah dan mangkuk nasinya pada pemimpin baru biara itu. Pemilihannya, ujar guru tua itu, nanti berdasarkan sebuah perlombaan. Semua orang yang menghadiri pertemuan itu diminta menunjukkan kebajikannya dengan mengajukan sebuah puisi.
Kepala biarawan, calon pengganti utamanya, menghadirkan sebuah puisi
Tubuh adalah pohon dari bodhi,
benak serupa kilau cahaya cermin.
usaplah dengan teratur, bahkan dengan kecerdasan yang selalu waspada
jagalah agar tak tercemari oleh debu dunia.
yang tersusun bagus dan sangat mengilhami . Segenap biarawan mengira dialah yang terpilih sebagai pimpinan baru mereka. Namun, esok paginya sebuah puisi lain
Pada dasarnya tak ada pohon bodhi
atau kilauan cahaya cermin.
Kalau dari semula semuanya adalah kehampaan,
dimanakah debu bisa tercerahkan?
tertempel di dinding lorong menuju aula, sepertinya dituliskan pada saat-saat yang gelap semalam. Puisi itu mengejutkan semua biarawan dengan keanggunan dan kedalamannya tapi tak seorang pun mengetahui penulisnya.
Terdorong untuk menemukan penulisnya, maka sang guru tua pun mulai menanyai semua biarawan. Mengherankannya, penyelidikan itu mengarahkan mereka pada pesuruh dapur yang agak pendiam yang biasa memasak nasi santapan mereka.
Begitu mendengar kabar ini, kepala biarawan yang cemburu dan para kambradnya berencana untuk membunuh saingan mereka ini. Diam-diam, sang guru tua mewariskan jubah dan mangkuk nasinya pada si penanak nasi, yang segera kabur dari biara, kemudian menjadi guru Zen yang sangat ternama.
BPS-SS 005 ������
-
Bunga Papan Selamat 005 [image: 💐][image: 🌷][image: 🌹] Toko Bunga
Surabaya Kinanti Florist ini merupakan pesanan dari PT. BERNOFARM. Bunga
papan ini dip...
7 years ago